Tampilkan postingan dengan label POJOK RELIGI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label POJOK RELIGI. Tampilkan semua postingan

Bukti kebesaran Allah SWT

| Selasa, 23 Desember 2008

Masjidil Aqsha, Yerusalem
Bukti kebesaran Allah SWT batu tempat duduk Nabi Muhammad SAW saat Isra Mi’raj sampai kini masih tetap melayang di udara. Pada saat Nabi Muhammad mau Mi’raj batu tsb ikut, tetapi Nabi SAW menghentakan kakinya pada batu tsb, maksudnya agar batu tsb tak usah ikut.

Berkah membaca Basmallah

|
Membaca Bismillahirrahmanirrahiim pada setiap pekerjaan yang kita lakukan berarti mengalihkan kemampuan yang ada pada diri kita kepada kemampuan Allah SWT. Dengan membacanya, Allah akan mendampingi kita dan memudahkan apa yang sukar untuk kita kerjakan. Dan yang terpenting adalah keberkahan pekerjaan itu. Rasulullah saw. bersabda,“Semua perkara besar yang tidak didahului dengan Bismillah maka dia akan terputus (tidak mendapat berkat)”.
| Minggu, 21 Desember 2008
Sifat-sifat pemimpin yg adil
(menurut Imam Hasan Al Basri)
Sesungguhnya imam yg adil adlh utk meluruskan yg bengkok
membimbing yg zalim
memperbaiki yg rusakmembela yg lemah
pelindung bagi yg teraniaya
menjadi perantara Allah dgn hamba-Nya
membenarkan firman Allah&memperdengarkannya
Dia seumpama seorg budak yg dipelihara oleh tuannya untuk memelihara harta&keluarganya
tidak menghukum dgn hukum jahiliyah
tdk mengikuti jalan org yg zalim
tdk membiarkan yg zalim
berlaku sewenang2 thdp yg lemah
pemegang wasiat anak yatim&amanat org miskin
mendidik yg kecil&mengawasi yg besar
sifat pemimpin semcm itu bukan cerita fiksi
dulu ADA&pernah ADA
mari berjuang utk mengembalikannya
saatnya pemuda berbicara...turut berjuang atau diam dlm ketertindasan

Malulah Pada Air

|
Gemercik air, Tampak agak keruh. Maklum, hutan gundul, ditebang secara liar. Humus tak berfungsi, Serapan air lemah, Guyuran hujan mengikis kulit tanah sehingga air sungai keruh. Aliran air sungai memantulkan suara cukup keras, Air marah? Mungkin karena ekosistem rusak.
Meski begitu, air tidak mengenal putus asa, ia terus bergerak, berjalan menuju laut. Di sana air "mensucikan diri". Semua lumpur, kotoran, dan sampah dicuci sehingga suci kembali, Atas bantuan matahari air naik menjadi mendung, dan akhirnya menyapa bumi kembali. Begitulah, air tidak pernah istirahat, tidak kenal capek, dan tidak pernah tidur, Semua bergerak dinamis. Air mengetahui apa saja yang dilakukan manusia siang dan malam hari.
Air adalah saksi kehidupan. la merasa senang ketika ada orang berwudlu tengah malam. Dirinya merasa bermanfaat karena dipakai manusia untuk mendekat pada Tuhan. Airlah yang besok bercerita kepada Yang Maha Kuasa bahwa si Fulan menggunakan dirinya untuk bersuci lalu berdiri, rukuk, sujud dan duduk bersimpuh. Air merasa senang karena "berjasa" kepada seseorang dalam melakukan kebaikan.
Air juga yang akan bercerita kepada Tuhan tentang si Fulan yang menggunakan dirinya untuk maksiat. la tahu persis apa yang dilakukan manusia di hotel, di tempat prostitusi, atau tempat lain, Air pun menangis sejadi-jadinya karena merasa ikut "berjasa" membantu orang maksiat membersihkan diri. Tugas air juga sebagai pengingat atas perilaku manusia yang keterlaluan. Musibah Bahorok di Sumatera, misalnya salah satu contoh jika air berbicara. la tahu tempat itu bukan sekedar orbyek wisata tetapi di hotel sekitarnya selalu jadi tempat maksiat. Air mengingatkan manusia kealpaannya. Maka digelontorlah perkampungan, rumah, dan aset lain. Secepat kilat ratusan jiwa jadi korban, Musibah Tsunami, adalah cara Allah mengingatkan hambaNya lewat air.
Begitu pula di Gunung Kemukus, Jawa Tengah. Air membongkar tebing dan menghempaskannya ke bawah sehingga perkampungan berantakan. Mengapa? Di kawasan ini biasa digunakan ajang fair sesama pendatang yang ngalap berkah. Naudzu billahi mindzalik, Air tidak rela, lalu menghajar perkampungan itu, Umat Nabi Nuh dalam catatan sejarah yang tidak perlu ditiru, Perilakunya selalu bergelimang dosa. Mereka tidak hanya mencemooh kebenaran, tetapi juga menantang Tuhan.
Akhirnya air bah menjawab semua tantangan warga yang kufur nikmat. Bisa dibayangkan jika air ngambek, tidak mau turun, manusia bingung, Kemarau panjang itu merepotkan, Shalat istisqoh minta hujan ungkapan butuh air. Allah pernah menolak do'a Nabi Musa dan umatnya yang meminta hujan. Keluarkan dulu orang yang sombong dari jamaahmu baru nanti Aku kabulkan permintaanmu, begitu firman Allah. Jadi, lengah, sombong, ingkar, anarkis, dan brutal terhadap hutan bisa menyebabkan air marah.
Perilaku baik buruk, berpahala dan dosa, selalu diketahui air sebab manusia selalu menghapus jejak jeleknya dengan air, Begitu pula menuju ke sorga juga menggunakan air. Maka, malulah kepada air jika berbuat dosa. Kalau kepada air saja kita harus malu, bagaimana halnya terhadap Pencipta air? Kalau kita perhatikan ada gedung bertingkat, kokoh, dan tegar. Jangan lupa, besi, batu, pasir, dan semen, belum bisa berfungsi jika tidak ada air, Air lah yang membentuk bangunan kokoh, air mempererat bahan baku menjadi beton kuat, Meski air lembut namun menyebabkan tegaknya bangunan raksasa. Jangan anggap enteng sifat air. Di balik kelembutannya mampu membentuk bangunan tegar. Dibalik kelembutannya punya potensi menggelontor bangunan bahkan menjebol apa saja yang dilewatinya. Ada baiknya kita tiru sifat air: Lemah lembut tetapi menyimpan kekuatan dahsyat. la mampu menakhlukkan dunia. Acap kali sifat lemah lembut mengalahkan meriam. Senyum sifat lembut menurut Nabi Muhammad saw adalah ibadah, Maka, ada baiknya kita hiasi dunia ini dengan senyum, baik di arena politik, ekonomi, sosial, budaya dan Hankam.
Mengadopsi sifat air yang lemah lembut melahirkan pesona menakjubkan. Orang terhipnotis sifat ini. Sebaliknya sikap kasar, keras dan anarkis tidak mampu menakhlukkan hati, Justru orang lain berontak. Orang iman selalu melihat dosa seperti bukit yang berada di atas dirinya, seolah mau jatuh menimpanya. Orang ini selalu waspada, takut, dan memohon pertolongan kepada-Nya. Orang kafir sebaliknya, melihat dosa seperti seekor lalat yang hinggap di hidungnya. Menurutnya, lalat tadi bisa dihalau dengan mudah sehingga tenang saja meski selalu ada "lalat" lain yang datang hinggap dalam kehidupan orang tersebut. Upaya kita, membenahi diri agar tidak berlama-lama dalam kubangan hina. kita bersihkan noda dan dosa dengan taubat. Kita lempar jauh-jauh kesombongan jiwa Sebab diri ini tidak layak menyombongkan diri. Kesombongan hanya menipu diri sendiri. Maka, tidak ada lain sikap kita kecuali memohon kepada pemilik kehidupan ini agar kelak, di saat nazak lisan kita mengucapkan kalimat toyyibah agar kita langsung dihantar menuju tempat damai abadi di sisi-Nya, Amien.
Arsiduta n22 Desember 2008, di lab komputer

Ingat Mati Tapi Lupa Diri

| Sabtu, 20 Desember 2008
Sebuah hadist Qudsi yang cukup, panjang menggelitik hati kita, Sangat baik kita simak. “Aku (Allah) heran terhadap orang yang yakin akan datangnya kematian tetapi ia masih membanggakan diri ? Aku heran terhadap orang yang yakin dengan hari perhitungan (hisab), kenapa ia masih sibuk menimbun harta benda? Aku heran terhadap orang yang yakin akan masuk pintu kubur, kenapa mereka masih tertawa terbahak-bahak? Aku heran terhadap orang yang yakin terhadap hari akhirat, kenapa mereka masih bersenang-senang dan lalai tidak beramal? Aku heran terhadap orang yang yakin akan lenyapnya dunia ini, kenapa dia masih menambatkan hati kepadanya? Aku heran terhadap orang alim yang pintar bicara tetapi bodoh dalam paham pengertian. Aku heran terhadap orang yang sibuk menyelidiki aib orang lain, tetapi lupa cacat/cela dirinya sendiri. Aku heran terhadap orang yang tahu bahwa Allah memperhatikan tingkah lakunya, mengapa ia masih durhaka kepada Allah? Aku heran terhadap orang yang mengerti bahwa ia akan mati sendirian dan masuk kubur sendirian, kenapa ia masih asyik bersenda gurau dengan orang banyak?Tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, Muhammad itu benar-benar hamba-Ku dan rasulKu” Diakui atau tidak, banyak orang yang tidak sempat mengadakan perenungan. Dengan kesibukan yang padat, rasanya sulit mencari waktu yang tepat untuk berpikir mendalam. Hari-hari hanya diisi dengan kerja dan kerja. Semua waktu habis sekadar untuk mencari nafkah. Kesibukan seperti ini sudah menjadi ciri atau malah menjadi bagian dari kehidupan modern.Malam hari yang semestinya waktu paling cocok untuk melakukan perenungan ternyata juga tersita untuk sekedar urusan dunia. Malam, utamanya dikota-kota besar tidak lagi ada bedanya dengan siang, Tetap ramai, tetap sibuk. Lampu-lampu kota kini telah menjadi ‘pengganti’ matahari. Malam pun tetap terang benderang, Itulah sebabnya kemudian bermunculan manusia ‘kelelawar’ yang jadwal hidupnya justru terbalik, Di siang hari mereka tidur, malam hari mulai menampakkan tanda-tanda kehidupannya bekerja. Tentu saja hal ini menyalahi sunnah, menyelisih fitrah.Firman Allah,”Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.” (QS Al-Furdan 47 ).Karena manusia sudah merasa tidak lagi cukup waktunya untuk mencari kehidupan di siang hari saja, maka malam harinya mereka gunakan juga untuk bekerja. Akibatnya jam istirahat berkurang. Apalagi jam untuk tafakkur, mengadakan perenungan, muhasabah (menghitung diri), muroqobah (mendekatkan diri pada Allah), hampir tiada lagi sama sekali. Jangankan shalat malam, sedang shalat Isya saja dikerjakan sambil ngantuk, pikirannya masih tertuju pada lain yang sifatnya keduniaan. Apalagi disaat shalat, TV tidak dimatikan, sebab anak istri sedang menonton, Bagaimana bisa khusyu’ sedang ingat bacaannya sudah kesulitan. Terlebih kini semakin banyak saja acara yang menarik, yang melalaikan manusia dari memikirkan arti hidupnya sendiri. Semestinya sebelum pergi tidur diluangkan waktu sejenak untuk berzikir. Kalau bisa, shalat dua rakaat. Kalau masih bisa, baca Al Qur’an minimal tiga surat terakhir atau tiga Qul, yaitu Qul Huwallahu ahad, Qul a'udzubirabbil falaq, dan Qul a'udzu birabbinnas, laluditutup dengan do'a tidur. Tapi alangkah banyaknya orang yang pergi tidur tanpa sengaja. Sambil menonton TV keterusan. Lupa berzikir, lupa shalat, lupa berdo’a ataupun mengadakan perenungan. Malah mengatur posisi tidurnya saja tidak sempat untuk bangun tengah malam apalagi. Kurangnya mengadakan perenungan berakibat sangat fatal, Manusia tak lagi mengerti untuk apa mereka bekerja. Mereka bekerja sekedar untuk mencari harta. Setelah harta didapat digunakan sekenanya. Tidak ada waktu lagi untuk berfikir, darimana harta didapat.Tidak ada kesempatan untuk merenung, apakah yang lain juga mendapat, Tak juga sempat menilai, halal atau haram pendapatannya dan sebaliknya digunakan untuk apa saja itu semua. Dalam benaknya hanya ada satu pikiran, pokoknya saya dapat. Mestinya berfikir, darimana didapat, dan kemana dibelanjakan. Orang yang sudah pada taraf seperti ini hidupnya hanyalah sekedar untuk memenuhi hidup. Mereka bekerja, berjuang, berkorban, berdamai dan berperang, hanya untuk hidup, bahkan mereka mempertaruhkan hidupnya sekedar untuk hidup.Mereka ini disindir Allah dalam firman-Nya ”Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah. Mereka mempunyai mata, tetapi tidak dimanfaatkan untuk melihat tanda-tanda kebesaran Allah, mereka mempunyai telinga, tapi tidak dipakai untuk mendengar ayat-ayat Allah. Mereka itu bagai binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi, Mereka itulah orang-orang yang lalai,” (QS Al A’raaf: 179 ). Telinga mereka berlubang dan bisa mendengar, tapi tidak mau mendengarkan nasehat, anjuran, perintah dan larangan Dzat yang menciptakan telinga. Inilah yang disebut telinga pasif oleh Allah. Bukan berarti telinga ini tak aktif terhadap yang lain. Begitu musik disetel, nyanyian diperdengarkan, fitnah digunjingkan, telinga itu menjadi normal kembali, Mata mereka juga melek, tapi untuk membaca kalimat Allah mata itu menjadi rabun, malah buta sama sekali, Berbeda bila melihat lenggak lenggok artis, baik di pentas terbuka maupun di layar televisi, mata itu tiba-tiba jernih, sejernih kaca TV. Mereka juga punya hati, tapi sekedar gumpalan daging yang terbalut rongga dada, Hati yangberupa qolb tak lagi mereka punyai, paling tidak sudah lama tak terpakai. Usang, sulit dicari. Jika harus diaktifkan, masih perlu dibersihkan, diservis, bahkan mungkin dibongkar pasang dulu. “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” kata Allah dalam surah Al –israa’ 36.Sebelum hari pertanggungjawaban itu, sebaiknya kita memanfaatkanya untuk merenung, adakah ketiga-tiganya sudah berfungsi sebagaimana yang diharapkan oleh Yang Menciptakan? Atau kita masih beralasan, belum ada waktu untuk merenungkan?

10 Cara Atasi Tumpukan Bacaan Yang Harus Dibaca

|

Apakah bahan bacaan Anda begitu banyak sehingga sudah menggunung? Jika begitu,sekarang waktunya untuk mengatasinya.
Berikut ini adalah 10 cara untuk melakukannya.

1.Beri tanda highlighterJika membaca koran atau majalah, bacalah dengan memakai Highlighter. Bacalah dulu secara sepintas lalu seluruh halamannya dan tandai semua judul yang menarik perhatian Anda. Kemudian kembali dari awal dan baca hanya artikel yang Anda sudah beri tanda.
2.SobeklahJika Anda tidak mempunyai waktu saat ini untuk membaca artikel yang sudah Anda beri tanda, sobeklah halamannya dan tentukan waktu untuk membacanya nanti. Dengan cara ini, Anda tidak perlu lagi mencarinya di seluruh koran atau majalah Anda. Lagipula Anda tidak perlu menyimpan koran atau majalah yang tidak diperlukan lagi.
3.Pakailah Kartu IndeksJika membaca buku, gunakan kartu indeks untuk mengingat bagian yang Anda anggap penting. Di dalam kartu itu dicantumkan nomor halaman, bagian di halaman itu (A=Atas, T=Tengah, B=Bawah) dan satu atau dua kata yang membantu Anda untuk mengingat hal yang menarik perhatian Anda. Dengan demikian Anda tidak perlu membuang waktu untuk mencarinya di seluruh bagian buku tersebut.
4.Membaca CepatJika Anda mempunyai begitu banyak informasi yang harus Anda simpan, Anda mungkin harus mengambil kursus Membaca Cepat. Atau anda dapat mencari buku mengenai hal itu, dan melatihnya sendiri.
5.Tentukan Waktu Untuk MembacaTentukan tanggal dan waktu untuk membaca. Atau gunakan 15 menit setiap hari untuk membaca, dan catatlah waktu ini di kalender Anda. Ingatlah janji ini, seperti juga janji untuk mengerjakan hal lain. Dengan demikian, membaca akan menjadi bagian dari rutinitas Anda.
6.Hindari KekacauanKarena koran berisi kejadian terakhir, koran kemarin berisi berita yang sudah basi. Majalah hanya berlaku 1-2 bulan. Singkirkan koran dan majalah yang lama!
7.Buatlah File ‘Untuk Dibaca’Bualah map khusus atau kerjangjang dengan tanda ‘UNTUK DIBACA’ untuk menyimpan seluruh bachan bacaan Anda. Akan lebih mduah untuk melihat berapa banyak yang harus Anda baca jika semuanya disimpan di satu tempat, daripada tersebar di seluruh rumah atau kantor Anda.
8.Cobalah RealistisJika bahan bacaan Anda sudah terlihat menggunung, mungkin Anda mencoba untuk mengerjakan terlalu banyak. Banyak orang yang terlalu ambisius dalam menentukan berapa banyak waktu yang mereka dapat pakai untuk membaca. Jangan biarkan bahan bacaan Anda melebihi tempat penyimpanannya. Jika begitu, sudah waktunya untuk menyimgkirkan yang tak berguna.
9.Bawalah Bacaan Bersama AndaJika Anda merencanakan untuk pergi seharian, bawalah beberapa bahan bacaan Anda. Jadi, jika Anda mempunyai kesempatan, Anda bisa dengan mudah membacanya. Misalnya jika menunggu seseorang di kantor, sedang di kendaraan dalam perjalanan, atau sedang antri di kounter.
10.SumbangkanApakah Anda mempunyai buku atau majalah yang sudah tidak terpakai lagi? Anda dapat menyumbangkannya ke perpustakaan atau menjual ke tokok buku bekas. Perpustakaan setempat juga akan senang mendapat sumbangan majalah bekas.

Shalatlah Seperti Rerumputan

|

Shalatlah seperti Rumputan, begitulah pesan seorang sastrawan muslim, Ahmadun Yosi Herfanda, yang tertuang dalam puisinya “Sembahyang ku Sembahyang Rumputan”. Dalam kelelahan spiritualitasnya, ketika rakaat demi rakaatnya berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun, seperti sia-sia; ia menghanyutkan diri dalam lautan tahajud. Mengantarkan dia pada permukaan untuk bertemu pada Alloh SWT. Pertemuan yang begitu indah, hingga tangannya menuntun pena menuliskan bait sajak..


Sembahyang ku sembahyang rumputan

Sembahyang penyerahan jiwa dan badan

Yang rindu berbaring di pangkuan Alloh SWT

Sembahyang ku sembahyang rumputan

Sembahyang penyerahan habis-habisan

Walau kau tebang aku

Akan tumbuh sebagai rumput baru

Walau kau bakar daun-daun ku

Akan bersemi melebih dulu

Aku rumputan

Tak pernah lupa sembahyang

: Sesungguhnya shalatku dan ibadahku

Hidupku dan matiku hanyalah

Bagi Allah, Alloh SWT sekalian alam

Begitulah rumputan, yang memberikan simbol kerendahan-hatian, kebersahajaan, kefanaa, dan ketakberartian umat manusia di hadapan Sang Pencipta. Rerumputan juga menyimbolkan keteguhan dan semangat yang tak pernah padam.Coba saja rerumputan itu di bakar atau di tebang, maka ia akan tumbuh kembali dengan rerumputan baru yang hijau dan segar..

Gerakan rerumputan yang tunduk tertiup angin, menggambarkan semangat berjamaah dalam tunduk kepada-Nya..

Kini, sudahkah kita bisa seperti rerumputan itu ?

(di olah dari berbagai sumber)

Selama ini, saya lihat ada dua jenis wacana tentang salat istikharah yang mendominasi umat. Pertama, “cara praktis” meminta petunjuk Allah melalui salat istikharah. Kedua, cara salat istikharah “menurut sunnah Nabi”. Namun, keduanya sama-sama mengandung kelemahan.

Pada jenis yang pertama, kesesuaian dengan sunnah Nabi cenderung kurang diperhatikan. Contohnya, sebuah kitab mengajarkan bahwa seusai mengucap doa istikharah, “kocoklah (undilah) keenam lembaran kertas itu dengan tanganmu dan keluarkanlah satu per satu. Jika secara berturut-turut yang keluar adalah tiga lembar kertas yang bertulisan ‘lakukanlah’, maka lakukanlah urusan yang engkau ingin lakukan. ….” Dampaknya, walaupun memperoleh isyarat yang jelas, bisa-bisa kita terjerumus ke lembah bid’ah yang sesat dan menyesatkan.

Sedangkan pada jenis yang kedua, efektivitas (atau kepraktisan) salat istikharah kita sendiri kurang disoroti. Segi-segi lahiriah sunnah Nabi dalam bersalat istikharah diterangkan (khususnya tentang pengucapan doa istikharah), tetapi aspek-aspek batiniah dan akliah pelaku salat (misalnya: bagaimana menghidupkan hati dan mengaktifkan akal untuk menghayati dan memahami doa istikharah) cenderung tidak disinggung sama sekali. Akibatnya, bisa-bisa salat istikharah kita kurang efektif atau bahkan sia-sia belaka.

Oleh karena itu, kita membutuhkan cara salat istikharah yang efektif dan sekaligus sesuai dengan sunnah Nabi. Untuk contoh pembahasan rinci, silakan baca buku Istikharah Cinta.

Untuk penjelasan sekarang, marilah kita simak ciri-ciri istikharah yang sesuai dengan sunnah Nabi sebagaimana diungkapkan oleh Abu Umar Abdullah Al Hammadi, Misteri Shalat Istikharah, Edisi Revisi (Solo: Pustaka Ar Rayyan, 2006), hlm. 27-97:

Istikharah = memohon agar dipalingkan perhatian kepada apa yang dipilih Allah Swt.

Boleh memohon pilihan kepada Allah Swt dalam urusan besar atau pun kecil. Namun, utamakanlah perkara yang lebih penting.

Ketika Zainab mendapat lamaran dari Rasulullah saw melalui Zaid, Zainab menjawab, “Aku tidak akan melakukan apa pun sebelum aku bermusyawarah dengan Alloh SWTku [dengan istikharah].” (HR Muslim)

Bagi yang berhalangan (misalnya lantaran haid), istikharahnya cukup dengan baca doa istikharah tanpa salat.

Salat istikharah adalah salat sunnah dua rekaat yang dapat dilakukan secara tersendiri atau pun menyatu dengan salat sunnah lain (rawatib, tahiyyatul masjid, dll.). Kalau menyatu, harus ada niat bahwa dengan salat sunnah lain itu hendak dilakukan salat istikharah sekaligus.

Bebas memilih bacaan ayat Qur’an seusai Al-Fatihah. Tidak ada dalil kuat yang mengkhususkan bacaan ayat Qur’an dalam salat istikharah. Yang khusus hanyalah doa istikharah.

Teks doa istikharah:
Allaahumma, innii astakhiiruka bi’ilmika, wa astaqdiruka biqudratik.
Wa as-aluka min fadhlikal ‘azhiimi, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyuub.
Allaahumma, in kunta ta’lamu anna haadzal amra khairul lii fii diinii wa ma’aasyii wa ‘aaqibati amrii, faqdurhu lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiih.
Wa in kunta ta’lamu anna haadzal amra syarrul lii fii diinii wa ma’aasyii wa ‘aaqibati amrii, fashrifhu ‘annii, washrifnii ‘anhu, waqdur liyal khaira haitsu kaana, tsumma radhdhinnii bih.

Terjemah doa istikharah:
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pilihan [yang tepat] kepada Engkau dengan ilmu [yang ada pada]-Mu, dan aku memohon kekuasaan-Mu [untuk menyelesaikan urusanku] dengan kodrat-Mu.
Dan aku memohon kepada-Mu sebagian karunia-Mu yang agung, karena sesungguhnya Engkau Mahakuasa sedangkan aku tidak berkuasa, dan Engkau Mahatahu sedangkan aku tidak tahu, dan Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib.
Ya Allah, sekiranya Engkau tahu bahwa urusan ini lebih baik untuk diriku, agamaku, dan kehidupanku, serta [lebih baik pula] akibatnya [di dunia dan akhirat], maka takdirkanlah dan mudahkanlah urusan ini bagiku, kemudian berkahilah aku dalam urusan ini.
Dan sekiranya Engkau tahu bahwa urusan ini lebih buruk untuk diriku, agamaku, dan kehidupanku, serta [lebih buruk pula] akibatnya [di dunia dan akhirat], maka jauhkanlah urusan ini dariku, dan jauhkanlah aku dari urusan ini, dan takdirkanlah kebaikan untukku di mana pun, kemudian jadikanlah aku ridha menerimanya.

Doa istikharah itu boleh diucapkan secara hafalan atau pun dari lembaran kertas. Doa itu dapat dibaca di dalam salat atau pun sesudah salat.

Seusai istikharah, kerjakan pilihan sesuai kecenderungan hati sanubari [atau akal sehat]. Tidak perlu menanti mimpi. Bila kurang mantap, lakukan istikharah lagi.

Haruskah kita menyerah pada takdir yang menyakitkan itu?

| Kamis, 18 Desember 2008
Bagaimanakah sikap kita seandainya terkena penyakit langka yang bernama Still’s Disease? Sel-sel darah putih kita kehilangan kemampuan untuk membedakan antara sel-sel tubuh yang sehat dan bakteri atau virus yang merusak tubuh. Akibatnya, sistem kekebalan tubuh kita justru menyerang jaringan tubuh yang sehat dan menyebabkan peradangan serta nyeri sendi. Bagaimana?
Mungkin sampai tiga bulan, kita tidak bisa beranjak dari tempat tidur. Kehidupan kita sangat tergantung orang lain. Bahkan, untuk mandi sekalipun, kita harus meminta tolong seseorang. Kalau capek sedikit saja, kita langsung pingsan.
Bagaimana? Apakah kita akan memilih terus berada di tempat tidur?
Setelah masa tiga bulan lewat, kita dapat mulai belajar berjalan. Meski tulang-tulang di tubuh kita terasa remuk, kita bisa kembali berjalan seperti semula. Untuk berjalan dalam jarak lima meter saja, kita harus melakukannya dalam lima menit. Sangat pelan. Rasanya seperti berjalan dengan seluruh tulang yang sudah patah. Sungguh sangat menyakitkan.
Bagaimana? Apakah kita harus menyerah pada takdir yang menyakitkan itu? Tidakkah dalam keadaan begini pun, kita sebetulnya masih bisa menggapai takdir yang menyenangkan, misalnya meniti karir setinggi-tingginya? Mau, nggak, kita bercapek-capek menuju puncak?
Eits, menggapai takdir yang menyenangkan dalam keadaan menyakitkan itu tidak mustahil lho! Tuhan berjanji, “Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. … dan kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS Alam Nasyrah [94]: 6-
Belum yakin? Buktinya ada! Simak sajalah pengalaman Gita Rusminda dalam kisah nyata “Tulang mau patah, tapi terus berkarir di level internasional“.
Melalui shalat, Anda ingin lepas dari jerat persoalan berat? Bagus. Ingin bangkit menuju kesuksesan baru di berbagai bidang? Bagus sekali. Masalahnya, shalat yang bagaimanakah yang menjadi penolong kita?
Tak sedikit di antara kita yang rajin melakukan shalat, dan selalu berdoa memohon rezeki di dalamnya, tapi taraf kehidupan kita tidak mengalami peningkatan. Mengapa?
Dari sudut pandang ilahiah, itu mungkin karena Allah masih menahan rahmat-Nya dan Dia akan memberikannya di waktu lain yang lebih tepat. Namun dari sudut pandang insaniah, patutlah kita waspada, jangan-jangan itu karena cara shalat kita selama ini kurang cerdas!
Tanda-tanda orang yang mengerjakan shalat secara kurang cerdas antara lain:
• Enggan belajar lagi ilmu-ilmu tentang shalat, merasa sudah cukup karena telah hafal ucapan dan gerakan shalat;
• Melaksanakannya secara asal-asalan, tidak peduli akan adanya cara shalat yang efektif;
• Bershalat karena pengaruh kebiasaan atau tradisi, tidak ada peningkatan kualitas shalat dari waktu ke waktu.
Pada suatu masa, siang dan malam, rasa rinduku kepada “seorang bidadari yang tiada duanya” begitu memuncak. Berlinanglah air mataku tanpa dapat kutahan. Apalah dayaku?
Aku tak berkutik. Tiada yang bisa kulakukan selain berserah diri kepada Tuhan. Dan cara berserah diri kepada-Nya yang paling afdol mungkin adalah shalat secara khusyuk.
Masalahnya, hatiku sedang porak-poranda. Tubuhku lemas. Loyo. Bagaimana mungkin aku bisa bershalat secara khusyuk, sedangkan bangkit dari ranjang pun terasa berat sekali?
Ah, pikirku, biar sajalah! Biar saja terasa berat. Biar saja tak mampu bershalat secara khusyuk. Aku serahkan segala yang ada dalam diriku kepada Tuhan. Ya, segalanya kuserahkan, termasuk ketidak-mampuanku untuk bershalat secara khusyuk

Bagaimana Membangkitkan Umat hari ini?

|
Kondisi umat Islam di seluruh dunia hari ini sangat memprihatinkan. Belum kering darah dan airmata kaum muslimin Irak yang dibombardir dan diduduki negerinya oleh ratusan ribu pasukan Rambo AS dkk. yang dikerahkan untuk menguasai ladang-ladang minyak di sana (dengan cadangan sekitar 8 triliun dolar AS), dan masih terngiang di tekinga kita ancaman AS kepada kaum muslimin Suriah, kini AS pun mengarahkan ancamannya ke Iran. Sementara kebrutalan penjajah Israel di Palestina semakin meningkat. Negeri-negeri muslim lain yang telah lama tunduk menjadi sapi perahan AS dan kawan-kawannya yang menjajah di dunia Islam melalui utang-utang luar negeri yang mereka kucurkan, pendiktean kebijakan ekonomi yang mereka paksakan, maupun operasi agen-agen mereka dalam berbagai bidang kehidupan dan pos-pos strategis.
Walhasil, boleh dikatakan seluruh negeri Islam Islam kini dalam keadaan terjajah, dimiskinkan, dieksploitasi, dan ditindas kehidupannya. Di negeri jajahan langsung seperti Irak, Chechnya, dan Palestina, kaum muslimin dalam ketakutan. Di negeri “merdeka dan berdaulat”, kaum muslimin diberi sedikit ruang untuk mengekspresikan diri dalam koridor penjajahan itu. Dalam bidang ekonomi, kaum muslimin dililit utang yang bunganya saja, satu negeri Islam seperti Indonesia, harus membayar puluhan triliun tiap tahun ke negara-negara penjajah. Kekayaan mereka yang melimpah di berbagai negeri Islam menjadi “bancakan” negara-negara penjajah dan segelintir orang kepercayaan mereka di negeri-negeri Islam. Sementara mayoritas umat yang pemilik sebenarnya kekayaan itu, hidup susah sebagai buruh dan pengangguran, dengan beban ekonomi yang berat. Harga dan sewa barang, pendidikan, pekesehatan, dan lain-lain keperluan hidup serba mahal. Uang susah dicari, tapi rendah nilai daya belinya. Dalam bidang politik, mereka dipaksa minum obat tidur yang namanya demokrasi dan kebebasan dengan batas koridor: jika dan hanya jika menguntungkan para penjajah Barat. Dalam demokrasi, semuanya boleh kecuali Islam. Sehingga berbagai manipulasi politik yang hakikatnya “pemerkosaan suara rakyat” dari rejim ke rejim hanya untuk kepentingan penjajahan. Kaum muslimin dengan identitas Islam yang samar-samar boleh berada dipinggiran tanpa mengambil peran berarti. Dalam bidang pemikiran dan budaya, pemerkosaan Islam dan labelisasi sebagai agama yang terbelakang dan faktor pemecah belah yang harus ditinggalkan dipropagandakan sedemikian rupa untuk memisahkan Islam dari para pemeluknya sendiri. Agama Islam yang memenuhi ruang privat maupun publik, kini disembelih, hanya disisakan ke ruang privat. Reduksi aqidah Islam dilakukan dengan berbagai sarana, baik melalui “topeng pertolongan ekonomi dan sosial”, pendidikan, budaya, maupun hiburan dan pemberitaan media massa.
Sampai kapankah umat ini terus terjajah? Kapankah umat ini bangkit membebaskan diri dari seluruh belenggu penjajahan ekonomi, politik, pemikiran, budaya, bahkan --di beberapa negeri—militer? Kapankah umat ini tampil dalam format umat Islam di seluruh dunia yang terhormat?

Perubahan dari dalam diri kita

Jika kita mengamati perkembangan sejarah dari masa-kemasa, jatuh bangunnya suatu bangsa, maka kita akan dapat melihat bahwa itu semua disebabkan adanya perubahan dalam diri bangsa itu. Bahkan kenyataan ini ditunjuk dengan jelas oleh Al Quran. Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (QS. Ar Ra’d 11).

Para mufassir memberikan penjelasan tentang ayat ini berkaitan dengan keadaan umat Islam pada masa lalu yang bagus, penuh dengan keberkahan dan kesejahteraan, serta kekuatan dan ketahanan di bawah naungan bendera Lailahaillallah Muhammadur Rasulullah. Para khalifah sebagai pengayom agama dan keduniaan kaum muslimin melaksanakan kewajiban agama ini dengan sebaik-baiknya. Umat Islam sebagai warga negara melaksanakan tugas-tugas agamanya yang meliputi seluruh aspek kehidupan itu, baik dalam kewajiban personalnya maupun kewajiban sosial atau komunalnya menurut syariah Islamiyah. Namun, keadaan itu bisa berubah 180 derajat manakala umat melakukan kemaksiatan dan melalaikan kewajiban dan ketaatan kepada agamanya.
Pada tahun 1924, institusi penjaga umat itu runtuh dan umat Islam bagaikan ayam kehilangan induknya. Kehidupan sekular yang dipaksakan para penjajah dan kader-kader penerusnya pasca kemerdekaan melahirkan situasi dan kondisi masyarakat yang tidak Islami. Jauh dari ketaatan dan justru semakin ramai dengan kemaksiatan. Bahkan dalam iklim reformasi yang mestinya umat bisa menentukan bentuk negara dan pengelolaannya sendiri, ternyata umat ini tidak mengindahkan Islam, kecuali sebatas ibadah ritual dan sedikit moral. Bahkan dengan menguatnya sistem demokrasi dan liberalisasi dalam bisnis hiburan dan informasi, serta propaganda HAM, umat Islam kini cenderung semakin diarahkan kepada bentuk kehidupan yang jauh dari bingkai syariah Islam. Celakanya, tidak sedikit umat Islam ternyata “mau” atau merasa “tidak ada masalah” dengan arus yang mengarah kepada kebobrokan moral, kebobrokan ekonomi, kebobrokan politik, kebobrokan pendidikan, bahkan kebobrokan aqidah. Maka wajarlah, kalau krisis ini menjadi-jadi dan kondisi umat Islam tetap buruk, bahkan cenderung semakin terpuruk!
Bagaimana umat bisa bangun dan membebaskan diri dari kondisi yang memprihatinkan ini? Tentu harus ada reformasi dalam diri umat, bahkan harus ada revolusi, satu perubahan total dalam diri umat ini. Sebagaimana pesan Allah SWT dalam ayat di atas. Apanya yang harus diubah secara mendasar dalam diri umat ini? Tidak lain adalah pikiran mereka. Kenapa?
Sebab, selama ide-ide yang menyebabkan krisis dan keterpurukan umat ini masih bercokol dalam diri umat, mereka tidak akan pernah bangkit membebaskan diri dari belenggu realitas yang ada. Sekalipun mereka telah merasakan derita dengan cara hidup yang ada hari ini, tapi kesadaran mereka tidak pernah sampai ketemu jalan keluar yang benar. Sebab, dengan pola fikir yang ada, terhadap setiap kejadian mereka akan berkesimpulan: wajar! Sebagai contoh: Ketika umat diperas oleh oknum petugas dalam pengurusan kepentingan rakyat di berbagai meja birokrasi, mereka akan mengatakan wajar, soalnya para petugas itu gajinya kecil, sedangkan harga-harga sudah semakin meroket. Lebih-lebih para petugas itu mendapatkan jabatan itu dengan membayar mahal, maka wajarlah dia berusaha mengembalikan investasi alias pengin balik modal! Bila cara berfikirnya seperti itu, maka seluruh masalah tidak akan pernah bisa diuraikan dan diselesaikan, akan menjadi lingkaran setan. Sungguh malang bangsa dan umat yang ridlo dengan keadaan seperti itu!
Oleh karena itu, harus ada perubahan dalam benak pikiran anak umat ini. Pikiran yang menganggap wajar sebuah penyimpangan (corruption) harus diganti dengan pikiran bahwa setiap penyimpangan harus dicegah dan diatasi. Tentu ini membutuhkan perubahan pemikiran dasar. Umat ini harus diformat ulang cara berfikir mereka, mereka harus bertanya kembali: darimana hidup mereka? Untuk apa mereka hidup? Bagaimana kesudahannya setelah mereka mati? Tentu umat muslim akan menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar itu dengan jawaban yang standar syariah. Jawaban standar syariah pada pikiran-pikiran dasar itu, akan menjadi pandangan dan pemahaman hidup (mafaahim anil hayah) yang akan menentukan tingkah laku mereka.
Jika pemahaman mesti kembali kepada syariah sebagai metode memecahkan seluruh permasalahan kehidupan umat sudah tertanam dalam diri umat, maka bangkitnya umat ini dari kondisi berbagai keterpurukan tinggal tunggu waktu. Persoalannya adalah bagaimana menanamkan pemahaman itu dan siapa yang menanamkannya?

Bangkitnya para penegak agama Allah

Pemahaman yang jernih tentang syariah sebagai solusi atas seluruh problematika kehidupan adalah modal utama untuk bangkit dan tampil menjadi umat terbaik. Dan meratanya pemahaman itu ke seluruh kalangan, atau paling tidak pada sebagian besar tubuh umat ini adalah syarat bangkitnya umat itu. Untuk itu diperlukan upaya terus-menerus melakukan proses penyadaran itu. Dengan itu akan muncul individu-individu di kalangan umat, sedikit atau banyak, yang memiliki kesadaran tersebut. Di sinilah kunci perubahan bakal terjadi.
Kesadaran tersebut harus dikristalkan pada pribadi-pribadi yang siap berjuang mengembalikan Islam kepada posisinya, yakni sebagai penyuluh dan pengatur kehidupan manusia. Kesadaran perjuangan itu mengkristal dalam diri para pejuang itu manakala dalam diri mereka terdapat proses penyadaran posisi mereka sebagai muslim dan kewajiban agama yang harus mereka pikul. Masing-masing individu umat yang telah menyadari dan memahami kedudukannya sebagai muslim yang bakal menghadap Allah SWT, dia akan bangkit, dan bertekad mengubah cara pandangnya (yang selama ini sekular atau tidak jelas, menjadi cara pandang Islam yang jelas) dan bertekad untuk mengubah kebiasaan-kebiasan (pola) dalam sikap dan tingkah lakunya.
Pribadi-pribadi muslim yang sadar itu akan memegang prinsip dasar hidup (3M): (1) Menjadikan aqidah Islam sebagai asas berfikir dan pembentukan pemahamannya tentang kehidupan (asasul hadlarah). Dengan kata lain dia akan senantiasa menambah pemahamannya terhadap Al Quran dan As Sunnah sebagai sumber informasi dan inspirasi dalam memandang dunia dan dirinya, dan dalam memandang hak-hak dan kewajibannya sebagai hamba Allah. Dengan kekuatan aqidah atau keimanan itu dia akan terdorong maju tampil kehidupan dengan membawa visi dan misi seorang muslim yang jelas. (2) Menjadikan halal-haram yang ditetapkan Allah dan rasul-Nya sebagai standar perbuatannya (miqyasul amal), baik dalam masalah ibadah, makanan, pakaian, akhlaq, muamalah, dalam hubungan-hubungan sosial, ekonomi, politik, dan lain sebagainya. Dengan garis batas halal haram untuk kehidupan pribadi, bermasyarakat, dan bernegara, akan dapat dinilai dengan jelas sesungguhnya apa yang terjadi dan apa yang harus dilakukan sesui tuntutan dan tuntunan syar’i. (3) Menjadikan ridlo Allah sebagai arti kebahagiaan (ma’nas sa’adah) dalam menjalani seluruh aktivitas hidupnya, yang didasari poin 1 dan distandarisasi dengan poin 2. Tujuan dan cita-cita mendapat ridlo Allah semata inilah dasar dari keikhlasan perjuangan pribadi-pribadi muslim yang sadar itu. Kombinasi kesungguhan dan gambaran hidup yang jelas, pengetahuan tentang gambaran ideal syariah Allah, dan keikhlasan, adalah energi yang luar biasa bagi sebuah perubahan.

Khatimah
Dengan prinsip dan pemahaman seperti itu, pribadi-pribadi yang sadar itu akan bangkit menjadi para penegak agama Allah yang dengan perjuangan mereka umat ini akan bisa dibangkitkan kembali. Dengan penyuluhan dan bimbingan mereka umat ini akan bisa digerakkan untuk meninggalkan pola kehidupan yang rusak yang deritanya telah mereka rasakan, lalu bersama-sama dengan para pejuang yang ikhlas itu berjuang melanjutkan kehidupan yang pernah digariskan dan dijalani oleh Rasulullah saw., dan insyaallah akan mampu mengulangi kejayaan sebagai yang pernah diperoleh generasi awal umat ini. Wallahua’lam!

15 - Shalat Yang Wujudkan Impian

| Rabu, 17 Desember 2008
Jadikan Salat sebagai Penolong
Apakah shalat yang khusyuk dapat ujudkan impian-impian kita? Belum tentu. Pengaruh kekhusyukan itu cenderung berlaku terhadap segi-segi spiritual belaka, sedangkan impian kita ada kalanya bersifat material. Shalat yang mampu ujudkan impian-impian kita adalah shalat yang smart atau cerdas. (Shalat yang khusyuk adalah bagian dari shalat yang cerdas.)
Impian yang mana? Segala impian yang realistis, bukan angan-angan hampa. Untuk contoh di sini, impian mendapatkan pekerjaan yang mapan seperti pada diri Iwan.
Siagakan Pelaku Shalat
Dalam evaluasinya, Iwan memperhatikan bahwa dirinya telah menjadi pribadi yang kurang gaul. Sampai sebelum terkena PHK, waktunya habis untuk bekerja di kantor dan beristirahat di rumah. Tahun demi tahun berlalu, tanpa terasa, Iwan menjadi semakin jauh dari para kerabat, relasi, dan teman-temannya.
Berdasarkan evaluasi tersebut, saya sarankan Iwan mendirikan shalat yang melejitkan kecerdasan sosial dan sekaligus bertujuan mengingat bahwa Allah itu Maha “Pemberi” Rezeki. Langkah awalnya:
· Menanyai ustadz: Apa makna “Maha ‘Pemberi’ Rezeki”?
· Mencari tahu: Manakah masjid atau mushalla “terdekat” (terjangkau) yang jamaahnya memiliki perusahaan atau bekerja di perusahaan yang membutuhkan kelihaian Iwan?
Mantapkan Wujud Shalat
Melalui shalat jamaah, Iwan dapat menunjukkan kemauan dan kemampuannya dalam bekerja sama dengan orang lain sebaik-baiknya. Agar wujud shalat jamaahnya itu mantap dalam melejitkan kecerdasan sosialnya, Iwan perlu menerapkan kiat-kiat jitu, antara lain:
· Ketika Anda memasuki atau keluar dari masjid atau mushalla, jangan menginjak-injak alas kaki orang lain. Kalau terpaksa menginjak-injak, lepaskan dulu alas kaki Anda dan bersihkan dulu telapak kaki Anda.
· Ketika berdiri membentuk shaf (barisan) shalat jamaah, jangan melanggar batas shaf yang ditentukan oleh pengurus masjid/mushalla.
· Bila menjadi imam, perhatikanlah keadaan makmum. Bila diantara mereka terdapat orang yang berfisik lemah atau tampaknya sedang berada dalam keadaan terburu-buru, maka jangan memperlama shalat.
Arungi Makna Shalat
Wujud shalat yang mantap, tidak asal-asalan, memungkinkan kita untuk lebih memaknai shalat kita. Bagaimanapun, ucapan dan gerakan kita dalam shalat bukanlah aktivitas hampa yang tak bermakna. Tinggal kita sendiri, mau memaknainya secara rinci ataukah tidak.
Caranya, umpamanya:
· Ketika mandi dan berwudhu, renungkan perbedaan sikap para jamaah antara terhadap sesama jamaah yang bershalat dalam keadaan bersih dan terhadap sesama jamaah yang bershalat dalam keadaan kotor;
· Ketika merasakan bahwa Anda sedang menghadap Ka’bah, pikirkan makna “bersama-sama menghadap satu qiblat yang sama”;
· Seusai bertakbir, renungkan hubungan antara kebesaran Allah dalam ‘memberi’ rezeki dan besarnya rezeki yang didapatkan oleh orang-orang yang tingkat kecerdasan sosialnya tinggi.
Rengkuh Jiwa Shalat
Supaya makna-makna shalat yang kita arungi itu lebih efektif, kita perlu menghayatinya. Saat inilah kehadiran hati mengambil peran. Umpamanya:
· Rasakanlah betapa nikmatnya menggunakan rezeki yang berupa busana yang sedang Anda pakai untuk bershalat;
· Bayangkanlah bagaimana jika Anda tidak menutup aurat, sehingga tidak bisa bershalat, apalagi secara berjamaah;
· Hayatilah bagaimana Allah ‘memberi’ berbagai rezeki dengan cara yang berlainan kepada orang-orang yang berjamaah bersama Anda;
· Hayatilah betapa orang-orang lain yang berjamaah bersama Anda pun membutuhkan rezeki, yang perantaranya mungkin adalah kelihaian Anda dalam bekerja untuk/bersama mereka.
Tebarkan Hikmah Shalat
Dari empat “langkah besar” terdahulu (Siagakan pelaku shalat, Mantapkan wujud shalat, Arungi makna shalat, Rengkuh jiwa shalat), melejitlah kecerdasan kita. Hanya saja, kecerdasan ini sia-sia belaka bila kita tidak menerapkannya.
Supaya kecerdasan itu lebih melekat pada diri Anda dan benar-benar menjadikan shalat sebagai penolong Anda, maka Anda perlu menerapkannya sesegera mungkin, seluas mungkin, dan sesering mungkin.
Contohnya:
· Dengan menyadari bahwa Allah ‘memberi’ rezeki yang cenderung besar kepada orang-orang yang luas pergaulannya, luaskanlah pergaulan Anda di luar shalat;
· Dengan memperhatikan bahwa tujuan shalat Anda adalah mengingat bahwa Allah itu Maha ‘Pemberi’ Rezeki, sering-seringlah menunjukkan kepada Allah di luar shalat bahwa Anda sungguh-sungguh mengharapkan rezeki-Nya, yaitu dengan mengusahakan berbagai ikhtiar secerdas-cerdasnya.
Dengan menjalankan saran-saran semacam itu, insya’Allah terwujudlah impian Anda (pada saat yang tepat).